Gonore Dan Klamidia Adalah

Admin

Gonore dan Klamidia: Apa Bedanya dan Bagaimana Menghindarinya

Gonore dan Klamidia: Dua Serangkai yang Sering Bikin Was-Was

Pernah dengar tentang gonore dan klamidia? Keduanya adalah infeksi menular seksual (IMS) yang cukup umum di Indonesia. Seringkali, orang bingung membedakan keduanya karena gejalanya mirip. Padahal, meskipun sama-sama IMS, penyebab dan penanganannya berbeda. Mari kita bedah satu per satu, biar makin paham dan bisa menjaga diri dengan lebih baik.

Ilustrasi gonore dan klamidia adalah

Ilustrasi gonore dan klamidia adalah

Apa Itu Gonore?

Gonore, atau yang sering disebut “kencing nanah” oleh sebagian orang, disebabkan oleh bakteri bernama Neisseria gonorrhoeae. Bakteri ini biasanya menginfeksi saluran kemih, rektum (anus), tenggorokan, dan pada wanita, bisa juga menginfeksi leher rahim (serviks). Penularan gonore terjadi melalui hubungan seksual yang tidak aman, baik vaginal, anal, maupun oral.

Bayi juga bisa tertular gonore dari ibunya saat proses persalinan. Infeksi pada bayi ini biasanya menyerang mata dan bisa menyebabkan kebutaan jika tidak diobati.

Ilustrasi gonore dan klamidia adalah

Gejala Gonore yang Perlu Diwaspadai

Gejala gonore bisa bervariasi pada pria dan wanita. Bahkan, ada juga yang tidak merasakan gejala sama sekali, padahal sudah terinfeksi (asimtomatik). Ini yang bikin gonore jadi lebih berbahaya karena bisa menular tanpa disadari.

Pada Pria:

  • Keluar cairan kental berwarna kuning, hijau, atau putih dari penis.
  • Rasa sakit atau perih saat buang air kecil.
  • Nyeri pada testis (jarang terjadi).
  • Sakit tenggorokan (jika tertular melalui seks oral).

Pada Wanita:

  • Keputihan yang tidak normal, bisa lebih banyak, berubah warna, atau berbau tidak sedap.
  • Rasa sakit atau perih saat buang air kecil.
  • Pendarahan di luar siklus menstruasi.
  • Nyeri perut bagian bawah.
  • Sakit tenggorokan (jika tertular melalui seks oral).

Lalu, Apa Itu Klamidia?

Klamidia adalah infeksi menular seksual yang disebabkan oleh bakteri Chlamydia trachomatis. Sama seperti gonore, klamidia juga bisa menginfeksi saluran kemih, rektum, tenggorokan, dan leher rahim. Penularannya pun serupa, yaitu melalui hubungan seksual yang tidak aman.

Klamidia sering disebut sebagai “silent infection” atau infeksi diam-diam karena banyak orang yang terinfeksi tidak merasakan gejala apapun. Inilah yang membuat klamidia seringkali tidak terdeteksi dan bisa menyebabkan komplikasi serius jika tidak diobati.

Gejala Klamidia yang Sering Terabaikan

Mirip dengan gonore, gejala klamidia juga bisa berbeda pada pria dan wanita, bahkan seringkali tidak ada gejala sama sekali.

Pada Pria:

  • Keluar cairan bening atau keruh dari penis.
  • Rasa sakit atau perih saat buang air kecil.
  • Nyeri pada testis.

Pada Wanita:

  • Keputihan yang tidak normal.
  • Rasa sakit atau perih saat buang air kecil.
  • Pendarahan di luar siklus menstruasi.
  • Nyeri perut bagian bawah.

Perbedaan Utama Antara Gonore dan Klamidia

Meskipun gejalanya mirip, ada beberapa perbedaan penting antara gonore dan klamidia:

  • Penyebab: Gonore disebabkan oleh bakteri Neisseria gonorrhoeae, sedangkan klamidia disebabkan oleh bakteri Chlamydia trachomatis.
  • Jenis Cairan yang Keluar dari Penis: Pada gonore, cairan yang keluar dari penis biasanya lebih kental dan berwarna kuning, hijau, atau putih. Pada klamidia, cairan yang keluar cenderung lebih bening atau keruh. Tapi, perbedaan ini tidak selalu bisa dijadikan patokan pasti.
  • Komplikasi: Meskipun keduanya bisa menyebabkan komplikasi serius, komplikasi pada wanita akibat klamidia cenderung lebih sering terjadi, seperti Penyakit Radang Panggul (PRP) yang bisa menyebabkan kemandulan.

Komplikasi yang Mengintai Jika Tidak Diobati

Baik gonore maupun klamidia, jika tidak diobati, bisa menyebabkan komplikasi serius, terutama pada wanita. Beberapa komplikasi yang mungkin terjadi:

  • Penyakit Radang Panggul (PRP): Infeksi yang menyebar ke rahim, tuba falopi, dan ovarium. PRP bisa menyebabkan nyeri panggul kronis, infertilitas (kemandulan), dan kehamilan ektopik (kehamilan di luar rahim).
  • Infertilitas (Kemandulan): Baik pada pria maupun wanita, gonore dan klamidia yang tidak diobati bisa menyebabkan kerusakan pada organ reproduksi dan menyebabkan kesulitan untuk memiliki anak.
  • Epididimitis: Infeksi pada epididimis (saluran yang menyimpan sperma) pada pria. Epididimitis bisa menyebabkan nyeri testis dan infertilitas.
  • Peningkatan Risiko HIV: Infeksi gonore dan klamidia bisa meningkatkan risiko tertular HIV jika terpapar virus tersebut.
  • Infeksi pada Bayi Baru Lahir: Ibu hamil yang terinfeksi gonore atau klamidia bisa menularkan infeksi pada bayinya saat persalinan. Infeksi pada bayi bisa menyebabkan infeksi mata, pneumonia, dan infeksi serius lainnya.

Diagnosis dan Pengobatan

Jika kamu merasakan gejala yang mencurigakan atau merasa berisiko tertular gonore atau klamidia, segera periksakan diri ke dokter atau klinik kesehatan. Dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan mungkin mengambil sampel urine atau cairan dari area yang terinfeksi untuk diuji di laboratorium.

Gonore dan klamidia biasanya diobati dengan antibiotik. Penting untuk mengikuti semua petunjuk dokter dan menyelesaikan seluruh dosis antibiotik, meskipun gejalanya sudah hilang. Jangan berhenti minum antibiotik sebelum waktunya, karena bisa menyebabkan infeksi kembali atau menjadi resisten terhadap antibiotik.

Selain itu, penting juga untuk memberi tahu pasangan seksual kamu agar mereka juga bisa diperiksa dan diobati jika perlu. Ini penting untuk mencegah penyebaran infeksi dan menghindari infeksi ulang.

Pencegahan Lebih Baik daripada Mengobati

Pencegahan adalah kunci utama untuk menghindari gonore dan klamidia. Beberapa langkah pencegahan yang bisa kamu lakukan:

  • Gunakan Kondom Setiap Kali Berhubungan Seksual: Kondom adalah alat kontrasepsi yang efektif untuk mencegah penularan IMS, termasuk gonore dan klamidia. Pastikan kamu menggunakan kondom dengan benar setiap kali berhubungan seksual, baik vaginal, anal, maupun oral.
  • Batasi Jumlah Pasangan Seksual: Semakin banyak pasangan seksual yang kamu miliki, semakin tinggi risiko kamu tertular IMS.
  • Lakukan Pemeriksaan IMS Rutin: Jika kamu aktif secara seksual, terutama jika kamu memiliki banyak pasangan, lakukan pemeriksaan IMS rutin. Ini penting untuk mendeteksi infeksi sejak dini dan mencegah komplikasi.
  • Hindari Berhubungan Seksual dengan Orang yang Memiliki Gejala IMS: Jika pasangan kamu memiliki gejala IMS, seperti keputihan yang tidak normal, keluar cairan dari penis, atau luka pada area genital, hindari berhubungan seksual dengannya sampai dia diperiksa dan diobati.
  • Vaksinasi HPV: Meskipun vaksin HPV tidak melindungi dari gonore dan klamidia, vaksin ini melindungi dari Human Papillomavirus (HPV), virus penyebab kutil kelamin dan kanker serviks.

Kapan Harus ke Dokter?

Jangan tunda untuk memeriksakan diri ke dokter jika kamu mengalami:

  • Gejala yang mencurigakan seperti yang sudah disebutkan di atas.
  • Merasa berisiko tertular IMS karena berhubungan seksual yang tidak aman.
  • Didiagnosis dengan gonore atau klamidia dan ingin mendapatkan pengobatan.
  • Mencemaskan kesehatan seksual kamu dan ingin mendapatkan informasi dan saran yang lebih detail.

Kesimpulan

Gonore dan klamidia adalah dua infeksi menular seksual yang umum dan bisa menyebabkan komplikasi serius jika tidak diobati. Meskipun gejalanya mirip, penyebab dan penanganannya berbeda. Dengan memahami perbedaan keduanya, kamu bisa lebih waspada dan mengambil langkah pencegahan yang tepat. Ingat, pencegahan selalu lebih baik daripada mengobati. Jaga kesehatan seksualmu, gunakan kondom setiap kali berhubungan seks, dan lakukan pemeriksaan IMS rutin jika kamu aktif secara seksual. Kesehatanmu adalah prioritas utama!

Related Post

No comments

Tinggalkan komentar